THE UNDERSTANDING

Jarak

Hai, lama nggak muncul lagi di sini.

Jarak kadang dibutuhkan untuk membuat kita melihat dengan lebih jelas. Kata yang tertulis di atas kertas dapat dibaca ketika ada jarak yang cukup antara kertas dan mata. Jika terlalu dekat ia buram, jika terlalu jauh jaraknya, mata tak mampu menjangkau. Melihat segala sesuatu lebih dekat memang diperlukan, tetapi bukan berarti meniadakan jaraknya. Berjarak terhadap sesuatu tidak selamanya harus dibenci, karena terkadang ia menjadi keniscayaan.

Api dapat ditaklukan bukan dengan membuat kita dengannya menjadi tidak berjarak, tetapi justru dengan membuatnya berjarak. Api dapat membakar jika tidak diberi jarak, tetapi ketika diberi jarak, api jadi menghangatkan. Api memancarkan cahaya penerangan dalam gelap, dan gelap pun tidak berkeberatan sebagian misterinya tersingkap. Dalam gelap pun kini kita tetap tegap melangkah karena api telah membuat jarak penglihatan kita mampu menjangkaunya.

Bumi berputar mengelilingi matahari, sedangkan matahari tetap ditempatnya. Bumi akan selalu menantikan hadirnya setiap hari, karena matahari memberi bumi cahaya kehidupan. Dengan bijak matahari tak beranjak, karena jika matahari mendekat, kehidupan di bumi justru akan musnah terbakar oleh panasnya. Dan demikianlah jarak antara matahari dan bumi telah memberikan pengajaran pada insan, yakni siklus bernama siang dan malam.

Pemurnian dalam hidup diperlukan untuk menyederhanakan kerumitannya, karena seringkali terjadi keburaman terhadap segala sesuatu. Tidak ada yang selamanya putih, tidak juga selamanya hitam. Keburukan terkadang memakai baju kebaikan, kebaikan pun kadang tersamarkan dengan kotoran yang melekat pada penglihatan kita. Jauh merangkai yang tak tergapai, tetapi khilaf membenahi hal-hal yang melekat pada diri. Memangkas jarak yang kodratinya perlu berjarak, dan berjarak dengan sesuatu yang telah melekat, yaitu diri.

Memantau detail kehidupan dalam mikroskop seringkali justru menimbulkan kegelisahan. Ada banyak hal yang lebih baik tidak kita ketahui untuk membuat hidup lebih tenang. Terlalu dalam terlibat juga bisa menimbulkan kejenuhan, maka ambilah jarak dan menyingkirlah sejenak. Diam bukan berarti tidak melakukan sesuatu, memperhatikan antusiasme orang lain dalam melakukan sesuatu adalah lebih baik daripada memaksakan diri terus bergerak tetapi tanpa pemaknaan. Berjaraklah sejenak ketika segalanya semakin sesak.

Jarak yang terbentang antara dua insan juga dapat menumbuhkan keberkahan dan penghargaan yang lebih ketika berada dalam kedekatan. Karena kebutuhan pada sesuatu akan makin terasa ketika ia tak ada. Kedekatan keluarga misalnya, akan selalu dirindui oleh mereka yang tidak berada dalam dimensi tempat yang sama. Namun terkadang khilaf untuk disyukuri oleh insan ketika jarak tak lagi memisahkan. Kerinduan akan melahirkan asa yang menjembatani dua hati yang berjarak. Dan kembali, jarak memiliki keberkahan tersendiri.

Namun Friedrich Nietzsche (silahkan Googling) mengkhawatirkan hal ini sejak lama, bahwa kerap larut menjadi apa yang dihadapi, bukanlah bonus hikmah dari sebuah peristiwa. Maka membentangkan jarak antara sesuatu yang kita hadapi dengan diri adalah untuk menjaga keotentikan nilai dan karakteristik pribadi dari pihak-pihak yang terlibat. Belajar menyelam agar tidak tenggelam, belajar berbaur agar tidak melebur, belajar mewarnai agar tidak melulu terwarnai.

Kecenderungan terhadap sesuatu seringkali menumpulkan objektivitas dalam memandang. Kemudian digiring oleh subjektivitas pribadi serta ditumpangi nafsu untuk menuruti kecenderungan kita akan sesuatu, maka matilah sendi-sendi pemahaman. Kemana larinya ilmu? Ia pergi entah kemana. Dimana lagi rasa malu bersemayam? Ia bersemayam entah dimana. Maka berjarak dengan kecenderungan yang membodohi pemahaman dan mencerabut rasa malu adalah keutamaan bersikap.
Menyukai sesuatu sekedarnya, membenci sesuatu juga sekedarnya. Karena yang disukai terkadang membawa keburukan, dan yang dibenci terkadang menyimpan pesan kebaikan.

Sikap pertengahan ini menjadi pelindung dan penyelamat dari fatalnya kesalahan terselubung. Jarak yang membentang antara masa kini dan masa depan juga adalah penjaga, agar dalam menjalani hidup di hari ini kita lebih leluasa. Berusaha menyingkap jarak yang membentang diantara keduanya adalah kesia-siaan. Melelahkan lagi menggelisahkan.

Maka biarlah jarak bersanding bersama keindahan tabir dan prasangka dengan begitu anggunnya. Mengajari penumbuhan dan kesabaran bagi si empunya. Keberkahan terselubung yang disimpannya merefleksi keagungan misteri semesta yang tidak pernah habis terkuak. Menghadirkan gejolak tiap satu-persatu misteri itu tersingkap. Dan bersahabatlah dengan takdir ketika jarak lagi dan lagi memaksa hadir. Keikhlasan akan hadirnya melahirkan pemaknaan mendalam yang membimbing kita mengucap syukur. Betapa berfaedahnya jarak yang Tuhan ciptakan.

G.

hikewhileyoucan:

hike while you can

Let’s take the road trip!

hikewhileyoucan:

hike while you can

Let’s take the road trip!

"Dalam hidup manusia, memang ada orang-orang yang ditakdirkan untuk datang sekelebat, mengajarkan sesuatu, lalu lenyap sama sekali."
Titik Nol by Agustinus Wibowo
"Oh you say you hate me now and you burn me with your words
Calling me a fool, saying that I effed up everything and you’ll never forgive me
Though I’m doing this for you
Baby can’t you see
There’s such a thing of loving someone so much
That you need to give them time to let them breathe
But you don’t understand, I wish you understood
Oh I hope one day you do"
Banks - Someone New (via olhaelaali)

thextheorist:

Hey, stop what you’re doing for a sec and watch this video. I just wanna say I love you guys. 

cc: 
BANKS

This-is-beautiful.

(Maybe) Not many people understand this

In fact a mature person does not fall in love, he rises in love. The word ’fall’ is not right. Only immature people fall: they stumble and fall down in love. Somehow they were managing and standing. They cannot manage and they cannot stand – they find a woman and they are gone, they find a man and they are gone. They were always ready to fall on the ground and to creep. They don’t have the backbone, the spine: they don’t have that integrity to stand alone.

A mature person has the integrity to be alone. And when a mature person gives love, he gives without any strings attached to it: he simply gives. And when a mature person gives love, he feels grateful that you have accepted his love, not vice versa. He does not expect you to be thankful for it – no, not at all, he does not even need your thanks. He thanks you for accepting his love. And when two mature persons are in love, one of the greatest paradoxes of life happens, one of the most beautiful phenomena: they are together and yet tremendously alone; they are together so much so that they are almost one. But their oneness does not destroy their individuality, in fact, it enhances it: they become more individual.

Two mature persons in love help each other to become more free. There is no politics involved, no diplomacy, no effort to dominate. How can you dominate the person you love? Just think over it. Domination is a sort of hatred, anger, enmity. How can you think of dominating a person you love? You would love to see the person totally free, independent; you will give him more individuality. That’s why I call it the greatest paradox: they are together so much so that they are almost one, but still in that oneness they are individuals. Their individualities are not effaced – they have become more enhanced. The other has enriched them as far as their freedom is concerned.

Immature people falling in love destroy each other’s freedom, create a bondage, make a prison. Mature persons in love help each other to be free; they help each other to destroy all sorts of bondages. And when love flows with freedom there is beauty. When love flows with dependence there is ugliness.

G.

junibie:

http://junibie.tumblr.com

Aduh Teteh Banks :3

junibie:

http://junibie.tumblr.com

Aduh Teteh Banks :3