WHO IS GIGIH?

i am the man, you are the man, we're the man, but i can't being another man
because finally i realize, that i'm only a man

At this point in my life, I find myself obsessed with alternate paths I could’ve taken. I don’t think about this with a sense of regret, but with a sense of wonder.

—Benjamin Gibbard

If It Means A Lot To You (A Day To Remember cover)

(M)emori

Kau ingat pertama kali kita bertemu? Matamu bertemu mataku, tanganmu menjabat tanganku, senyummu menyapa jantungku, kau menjajah pikiranku.
Kau ingat pertama kali kita saling mengikat? Dua orang yg terasing dari dunia. Kau bilang kita berdua harus mendefinisi ulang kata “cinta”.
Kau ingat pertama kali kita merencanakan masa depan? Hidup tak pernah semanis itu. Masa depan adalah bingkai, dan fotomu yg ada di dalamnya.
Kau ingat saat aku menyakiti hatimu? Aku merasa jadi orang terbodoh sedunia. Betapa “kesempatan” adalah hal paling mahal, dan kau beri itu.
Kau ingat saat kau menyakiti hatiku? Mungkin kau khilaf, mungkin kita kurang berdialog, mungkin, mungkin dan mungkin yang lain. Entahlah.
Kau ingat jalan pulang? Sehancur apapun hatiku,tak pernah kubiarkan pintu tertutup. Mreka bilang ini “kebodohan”, aku bilang ini “keyakinan”.
Kau ingat mengapa hari ini kita bisa jadi dua orang asing yg hampir tak pernah saling menyapa? Aku tidak ingat alasannya.Kau pergi tiba-tiba.
Kau ingat menitipkan doa pada Tuhan untukku malam ini? Mungkin kau tidak ingat, tapi tak pernah seharipun aku lupa.
Kau tak perlu ingat aku, tak perlu ingat merindukanku, tak perlu ingat mendoakanku. Kau hanya perlu ingat untuk bahagia. Itu saja cukup.
Aku mengingatmu seperti dulu, tak pernah sedikitpun berubah :)

Kamu dimana sekarang? Aku rindu.

#Gigih

M

Sebuah pertemuan awal adalah kapal yang berlabuh di pelabuhan. Tidak perlu sebuah tali atau tambatan yang mengaitkan kapal dengan anjungannya, hal tersebut sudah lekat masing-masing. Tidak usah hiraukan ombak yang bergelung menghantam lambung kapal yang membuat kapal dan anjungan tidak stabil, itu bukan masalah sama sekali. Maaf saya menggunakan analogi.

Dibangun dengan adanya sebuah komunikasi yang kuat, sebuah jalinan bisa terjalin dengan lebih kuat dan tebal. Ini terjadi tanpa disengaja dan dibuat. Sebuah jalinan yang bagus akan selalu terus berpaut meskipun tidak adanya jalinan komunikasi yang dimaksudkan secara kasat mata untuk memperlihatkan sebuah hubungan yang ada. Tidak harus diperlihatkan secara langsung. Dengan mengerti dan mengamati, sebuah hal yang tidak pernah ada sebelumnya, dipastikan akan muncul dan bergerak menuju arah yang tidak pernah kita sangka sebelumnya. Lalu apa yang salah dengan hal ini? Tidak ada, hanya saja kita selalu saja sering mempermasalahkan komunikasi yang terjadi menjadi sebuah batu ganjalan yang membuat jalanan tidak rata. Tidak harus selalu jalan yang mulus. Apa yang diharapkan oleh jalanan yang mulus? Tidakkah dengan adanya batu dan lobang-lobang itu, menambah variasi yang berlainan rasa? Ketika kita melihat keluar, apa yang ada didalam menjadi fokus yang berkurang setengahnya.

Sebentar, saya tahu bahasa saya tidak enak dibaca dan terlihat kacau, tapi tidak usah mempermasalahkan itu. Masalah yang sebenarnya ada di dalam kajian tulisan ini. Ah lupakan lah.

Lalu apa yang menjadi masalah setelah berkomunikasi dengan baik, tidak selalu berhubungan, dan selalu mengerti dengan baik? Kajian di dalam objek tersebut? Hampir sesuai. Namun mari kita menuju lebih spesifik. Ketika kita melakukan sesuatu, kajian di dalam diri kita melakukan hal yang serupa kita lakukan pada saat itu juga. Kita tidak pernah berpikir apakah hal yang kita lakukan sekarang, menarik pada 5 atau 10 tahun kemudian? Apakah langkah yang kita ambil itu selaras dengan pikiran kita? Seyogyanya, kita harus selalu bisa berpikir dengan banyak cabang. Memosisikan diri kita menjadi orang lain adalah inti dari perbuatan tersebut. Di dalam konteks tersebut, ada satu hal yang tidak akan pernah bisa saya terima. Mengingat hal tersebut tidak akan cocok jika saya utarakan sendiri, silahkan tafsir lebih jauh dari tulisan ini. Tidak usah mengira-ngira dan melihat ke tulisan/kajian lain. Karena semua datanya ada disini. Kita cenderung melihat ke kajian lain dulu dibanding melihat kajian yang ada di depan mata.

Menyesal itu biasa, yang tidak biasa itu adalah melihat penyesalan tersebut menjadi sebuah pengalaman yang terpaut jauh dengan apa yang terjadi sekarang. Seringkali hanya lewat. Tidakkah kita ingin berpikir lebih jauh dengan apa yang terjadi di masa yang akan datang? Dan bagaimana jika kita balik hal tersebut? Tidakkah kita ingin berpikir lebih jauh, apakah yang akan kita lakukan sekarang menjadi sebuah hal yang bagus atau tidak di masa depan? Yang saya ingin tekankan, kita semua pasti pernah masuk ke dalam lingkaran tersebut, tidak pernah tidak. Seringkali penyesalan ada, sekali lagi saya bilang, penyesalan tidak ada gunanya sama sekali. Tidak ada penyesalan itu terjadi ketika kita benar-benar yakin dengan keputusan yang kita ambil itu benar-benar sesuai dengan pertimbangan-pertimbangan yang telah kita kaji.

Saya tidak pernah membenci, saya hanya menyayangkan hal itu. Akan lebih baik kalau saya tidak mengetahui nya. Akan lebih baik kalau saya hanya tidak sekedar tahu di permukaan. Lalu apakah lebih baik kalau saya tidak mengenalnya sama sekali? Tidak, yang paling baik adalah dengan mengenalnya. Itu yang tidak bisa saya terima menjadi kesatuan. Kalau tidak bisa diterima, saya akan baik-baik saja. Hanya saja, hal tersebut bisa kita redam secara sporadis, di saat yang mana saja.

Teruntuk,

seseorang yang bersama selama lebih dari 1400 hari

Last pretence

Aku tidak bisa menghadapimu
Percakapammu, dan pandanganmu

Karena hatimu yang telah pergi
Kebekuanmu, melumpuhkanku

Berpura puralah kau masih sehati
Karena selama ini kaulah yang aku cari

Kekhilafanku antarkan kita ke dua arah yang jauh beda
Nafas terakhir perjuangan kita, akhiri dengan nada yang indah
Cobalah kau bertahan sampai waktunya datang

Seakan akanlah kau masih disini
Karena, selama ini
Kau lah yang aku cari

*teruntuk seseorang yang menjalani1526 hari bersama saya

So baby, be honest. Is this what you wanted? We lost where We started and found out much more than we wanna know about how we are letting go.

—Derek Sanders

I know it’s water and bridges now, but what’s the sense in carrying around this weight? These words are tearing me apart

—Chris Carrabba

But all these months in the cold play hell on the throat until everything I say : burns like cinders

—Self